Dalam perjalanan pulang dari solo ke jogja tadi malem saya
didawuhi budhe Herni untuk membuat ulasan pada pertemuan silaturrahmi 1 januari
2016 alumni smp al islam 1 surakarta kemarin.
Sungguh menjadi tidak fair kalau saya yg memberi ulasan,
wong saya datang telat. Panitia ataupun pemrakarsa seharusnya yang lebih
berhak.
aku kie wis tekane telat, begitu datang njuk waton nylekop,
ra melu mbayar, langsung makan, ngajak bolo anak-bojo meneh hahahahaha…. Jiaaaaann….
Ra sopan tenan aku kie…
Tapi, sebagai rasa hormat saya pada budhe Herni yang cukup
banyak berperan atas terselenggaranya acara ini, saya akan mencoba ‘ngudo roso’ berdasar
pandangan mata yang mulai kabur ini (kalo membaca tulisan sudah musti pakai
kaca mata plus…hadeeeewww… mulai dikurangi nikmat saya… )
Jadi begini…
Jelas, pertama saya perlu mengapresiasi kepada
pengurus/panitia/pemrakarsa dan penyandang dana atas “segala” yang telah
diberikan demi terselenggaranya silaturrahmi ini dengan penuh keikhlasan.
Sebuah kelonggaran, kekayaan hati dan energi mereka yang tidak bisa dibilang
sederhana, mudah-mudahan menjadi pengalaman bathin yang akan dicatat oleh Yang
Maha Segala sebagai amal kebaikannya. Wow… salut buat mereka… (kok koyo
sambutan pak dukuh kie yo…xixixixi….)
Lalu…
Pada dasarnya, silaturrahmi kemarin saya rasakan lebih
dinamis, lebih berwarna dari pada beberapa waktu silam…
Sempat saya dduduk di pojok mengamati satu-persatu…
Alhamdulillah semuanya wajah sumringah, seneng, tidak terpancar bahwa usia
temen-temen sudah diatas kepala empat. barangkali ini wujud-bukti apa yang
dingendikakne Nabi Muhammad, bahwa silaturrahmi dapat memperpanjang usia. Gak
ada yang sedih, gak ada yang mrengut, gak ada yang merasa tersisih, gak ada
yang tidak percaya diri…
Wajah-wajah yang Nampak lebih muda dibanding chronological
age-nya… tidak nampak bahwa kita sudah berusia empat puluh tahun lebih, tidak
berasa bahwa diantaranya sudah bercucu, ah… bahagianya… setelah sekian puluh
tahun tidak bertemu… dulu, jangankan bicara… berpapasan aja deg-degan,
imajinasinya entah kemana… hari itu…luber semua, cair, seger… tiba-tiba saya
bisa bicara lancer di depan Nu’id, ngobrol lancer dengan Fadhilah, ngenyeki Ida
dan Iing dengan ringan, jowal-jawil dengan Nikmah…aih..aih…
seolah tidak ada yang perlu dimaafkan, karena seolah sudah
cukup dekat dan saling memahami. Melekatnya ati yang tak berbatas… ciee..cieee…
Tidak ada batas
kaya,miskin,buruh,pejabat,pengangguran,laki,perempuan… cair dan dinamis, walau
ada aja yang asyik mojok dewe, tapi kuanggap itu sebagai wujud perasaan yang
telah lama mereka simpan menjadi telaga kerinduan…
Meski ada beberapa temen yg membuat saya jadi agak
cangggung, gimana gak canggung… mosok sama saya ngomongnya boso
kromo…bhuwahahahaha…hla saya musti piye jal… engatase ngobrol mbi henri wae kok
nganggo boso kromo…
Ini yang membuat saya tetep bertahan berada di tengah paseduluran
ini, ada perasaaan saling menjaga… menjaga agar selalu berada dalam jalur
kebaikan, mengingat kebandelan saya selama ini… menjaga agar selalu jelas
aqidahnya (matur nuwun leik Agus, saying kemarin kita tidak bisa bertemu)
mengingat betapa bengalnya diri ini…
Ada perasaan untuk selalu memberi ruang dimanapun dan
kapanpun pada keluarga ini, di sisi pojok relung hati. Kusimpan dan kujaga
kuat-kuat agar tidak akan pernah putus tali silaturrahmi ini.
Di akhir sesi, budhe Herni dengan semangatnya memberi
‘permainan’ yang sangat inspiratif, memberi pencerahan agar selalu berbuat kebaikan pada sesama lalu disimpulkan
pada pakdhe Yahyakan untuk selalu berbagi,
mengingatkan pada tugas utama manusia untuk saling bermanfaat pada
sesama. Yaaaaa…. Happiness only real
when shared Seperti quote dalam film
‘into The Wild”
Akhirnya, mudah-mudahan silaturrahmi ini akan selalu
terjaga, terawat, dan harapan untuk membangun media silaturrahmi yang lebih
nyata (yang saya dengar sementara ini ada wacana membentuk koperasi) terwujud. Mudah-mudahan
niat baik ini mendapatkan kemudahanNYA
Tak lupa dalam hati sambil berbisik pada para malaikat yang
melindungi kami, Al fatihah buat para almarhum, Anfalul Maghfur, Muhammad
Choeron, Didik Setia Adhi dan entah siapa lagi…
nuwun