Pelukan Surgawi
Rohmat berdiri di depan kaca. Matanya menyapu wajahnya yang
mulai menua. Dia tersenyum tiap kali
memandang kopiah hitam yang mulai menyoklat warnanya. Bukan karena tidak mampu
membeli yang baru. Tetapi untuk mendapatkan ukuran kopiah hitam yang seukuran
dengan kepalanya bukan perkara yang mudah. Ukuran kepala Rohmat terbilang
besar. Kopiah yang selama ini ia pakai, dipesannya sembilan tahun yang lalu
saat bertemu dengan Pak Saud pengrajin
kopiah di kota solo.
Pernah ia mendatangi rumah pak Saud untuk memesan yang baru dengan ukuran sebesar lingkar kepalanya, tetapi Rohmat tak pernah menyangka, rupanya pak Saud telah meninggal dunia sebulan setelah menyelesaikan kopiah pesanannya dan tak ada satupun anak-anaknya yang mewarisi ketrampilannya dalam membuat kopiah hitam.
Mau
tidak mau Rohmat harus merawat dengan hati-hati kopiah hitam satu-satunya itu.
Karena konon hanya pak Saud, pengrajin kopiah yang mau menerima pesanan -meski hanya satu- dengan
ukuran yang tidak standard .
xxx
Malam ini malam jumat.
Jadwal rutin Rohmat ke kampung
sebelah.
Seusai mandi. Segar. Sedikit wewangian dan baju koko serta kopiah hitamnya, ia bersiap berangkat melakukan konser.
Rohmat memiliki jadwal rutin mengisi pengajian di beberapa
kampung di sekitar tempat tinggalnya di dekat bandara adi sumarmo boyolali.
Rohmat menganggap acara pengajian ini adalah layaknya Konser!
Sebagai pengisi materi pengajian, dengan segenap
keikhlasannya, ia seolah mewujud sedang melakukan konser tunggal di depan
jamaahnya. Menebarkan irama wahyu illahi, melantunkan gema sholawat nabi,
mendendangkan tafsir ayat-ayat Qur’ani dan menyirami hati dengan sunnah-sunnah
nabi.
Ia meyakininya. Setiap kali mengucap seuntai sholawat, maka
akan diikuti puluhan jamaahnya bersholawat. Lalu bagai gayung bersambut secara
bersahutan diikuti ratusan malaikat yang mendoakan keselamatan untuk rohmat dan
jamaahnya.
Setiap kali Rohmat melantunkan untaian firman illahi, beribu
malaikat akan menggetarkan langit-langit semesta dengan tariannya yang
menebarkan cahaya menuju pintu-pintu surgawi.
Setiap kali ia membacakan sunnah-sunnah nabi, berjuta malaikat akan melembutkan hati dengan sentuhan harum mewangi. Abadi.
Begitu seterusnya. menggema bagaikan orkestra di gedung
seluas bumi. Menggetarkan seluruh alam raya. Konser!
Allohu Akbar…!!!
***
Konser dimulai. Rohmat duduk di depan menghadap beberapa
laki-laki. Di belakang berjejer jamaah perempuan. Diletakkannya al qur’an dan
kitab tafsir hadits yang menjadi pegangannya di atas meja. Malam itu ia berrencana menyampaikan materi
mengenai Faroid yang telah dipelajarinya bakda ashar sore tadi sepulang kerja.
Para jamaah menunggu dengan khidmat. Meski ada beberapa jamaah yang lebih tua
dari Rohmat, semua nampak khusyuk, duduk rapi bersila dan serius siap
mendengarkan. Menunggu fatwa-fatwa yang akan
disampaikan Rohmat. Semua diam.
Rohmat menghela nafas sebelum memulai. Tanpa mempedulikan
jamaah di depannya, ia membuka al qur’an pelan-pelan. Matanya yang sudah
berkacamata, sibuk mencari-cari halaman surat dan ayat. Mulutnya mengucap salam
pembuka.
“Assalamu’alaikuum warohmatullohi wa barokaatuh…”
Tanpa diberi aba-aba, jamaah membalas secara bersamaan.
“Waalaikuum salaam warohmatullohi wa barokaatuh …”
Lalu sejenak suasana kembali senyap, sementara Rohmat masih
sibuk membolak-balik halaman al qur’an. Lalu sekonyong-konyong dari arah belakang
jamaah perempuan, menyusul suara balasan salam.
“Waalaikuum salaam warohmatullohi wa barokaatuh …”
Rohmat terkesiap. Ia kenal betul dengan suara itu. Suara
merdu yang tak asing dari telinganya. Suara perempuan yang telah lama ia
rindukan. Mendadak dadanya berdegup kencang. Seperti dihempas angin malam yang
berat.
“Yu ratna…!”
Rohmat mencari sumber suara di belakang. Diantara jamaah
perempuan lainnya, wajah Yu Ratna menyembul melemparkan senyum mengulang
salamnya dengan penuh kelembutan.
“Waalaikuum salaam warohmatullohi wa barokaatuh …”
Deeeeegh… jantung Rohmat berhenti. Tangannya gemetar mencari
pegangan.
“Yu Ratna…” mulutnya mengucap lirih.
Rohmat hendak beranjak dari tempat duduknya. Tetapi Yu Ratna
memberi isyarat dengan tangannya.
“Sudah. Kamu di situ saja. Lanjutkan materinya. Aku
mendengarkan di sini”
Rohmat tak bisa apa-apa.
Perlahan ada hawa panas diseluruh hidungnya. Kerongkongannya
mengering. Rohmat Sesenggukkan. Air mata mengalir deras.
Yu Ratna, Aku kangen Sibu dan Bapak.
Yu Ratna menghampirinya. Mengusap kepalanya. Membersihkan
air mata dan ingusnya. Lalu memeluknya dengan penuh kehangatan. Sambil memeluk,
Yu Ratna menggoyangkan tubuhn rohmat ke kanan dan ke kiri. Seperti sedang
menimang-nimangnya. Rohmat menikmati pelukan Yu Ratna. Matanya dikatupkan
pelan-pelan.
Rohmat menjadi seperti anak kecil yang sedang digendong
kesana kemari. Rohmat mempasrahkan seluruh alam pikirannya dalam buaian tubuh
Yu Ratna. Saat ia dirawat dan diajak main-main sama Yu ratna.
Hanya Yu Ratna yang bisa memahami seluruh relung hatinya.
Yu ratna bisa mewakili seluruh keinginan yang ada di benak
Rohmat.
Yu Ratna bisa memuaskan seluruh kebutuhannya.
Yu Ratna juga yang bisa mewakili sosok Sibu yang banyak diam
dan hanya tersenyum dengan polahnya.
Yu Ratna yang banyak memberi perlindungan. Menjadi sosok
bapak saat ia tak mampu menghadapi dunia nyata berkeluarga dengan Tanti dan
tiga anaknya.
Yu Ratna yang tak pernah bosan menasehatinya.
Rohmat menjadi semakin kecil. Mengecil. Menjadi bayi.
Menidurkan diri.
Tubuhnya melayang dalam pelukan Yu Ratna. Untuk beberapa
saat ia merasakan pelukan surgawi.
Hingga kemudian ada hawa hangat yang mengusap wajahnya.
Dengan malas dan terpaksa, ia membuka matanya pelan-pelan. Tetapi bagai
dijebloskan dimuka bumi, rohmat kaget bukan kepalang. Apa yang dihadapannya
bukan lagi Yu ratna. Tetapi wajah seorang lelaki. Putih. Menyunggingkan senyum
kepadanya.
Lelaki putih itu bertubuh besar.
Dan membesar.
Semakin membesar.
Besar sekali...!
Saking besarnya dinding dan atap masjid runtuh. Tangannya
bagaikan sayap yang membentang diantara bintang-bintang di langit. Menyingkir
karena bentangan sayap lelaki putih tersebut.
Rohmat tak berdaya. Tubuhnya lemas. Wajahnya memucat.
Mulutnya mendadak kelu. Ingin ia berteriak. Tetapi meski sudah menganga lebar,
tak ada suara sedikitpun dari mulutnya. Lalu seketika semuanya berubah gelap.
Black Out.
Sayup-sayup beberapa suara lirih ia dengar, jempolnya terasa
sakit dipijit oleh sesuatu.
Perutnya seperti dihimpit batu.
Dan tahu-tahu ia sudah berada di rumah. Di tempat tidurnya.
Disamping Tanti dan ketiga anaknya.
Sisa keringat dingin masih belum kering dari seluruh
tubuhnya.
Tanti menyelimutinya. Mencium keningnya.
Rohmat terpana. Mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
Tidak terasa, cairan hangat merayap dibawah matanya.
Ia berusaha mengucap sesuatu. Segala doa yang ia selalu
hafalkan tiap bakda maghrib, tak satupun yang bisa ia ingat. Semua lenyap.
Hanya istighfar yang keluar pelan dari mulutnya. Astaghfirullohaladziim.
Suara-suara dari balik dinding kamarnya masih ia dengar. Ada
kang darmo, leik yudar, pakdhe agung, samar-samar mereka memperbincangkan
dirinya. Mempersoalkan apa yang terjadi pada dirinya.
“Mosok kiai kok kesurupan”
“Mungkin belum makan malam”
”Atau mask angin”
“Covid”
Dan spekulaasi
lainnya.
***
Malam itu. Leik rahmat termenung. Betapa selama ini ia
banyak mengabaikan rasa sayang keluarganya terhadap dirinya. Tanti-istrinya,
hanan si sulung, aisha nan cantik dan panglima yang lucu.
Alluhu akbar.